Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2012

Bauran Pemasaran dan Analisis Swot

By Tamuramaro Arishima | At 13.51 | Label : | 0 Comments
BAURAN PEMASARAN DAN ANALISIS SWOT GRAMEDIA BOOKSTORE
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Membaca telah menjadi bagian dari kehidupan setiap orang, baik bagi anak-anak, pelajar, mahasiswa, orang dewasa, dan tidak menutup kemungkinan bagi para manula. Membaca merupakan salah satu bagian penting dalam proses belajar, dengan membaca maka akan banyak pengetahuan dan informasi yang didapatkan. Semenjak usia dini, anak-anak sudah dibiasakan untuk membaca, mulai dari TK, SD, SMP, SMA bahkan hingga Perguruan Tinggi, semua mengharuskan para siswa dan mahasiswanya untuk banyak belajar melalui membaca, hal tersebut yang membuat kebutuhan terhadap buku semakin meningkat setiap harinya.
Seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap buku atau bahan pustaka, berbagai industri penerbitan dan percetakan pun mulai bersaing untuk menerbitkan buku yang berkualitas. Kondisi tersebut menciptakan peluang usaha bagi para distributor buku, karena membaca telah menjadi bagian vital bagi setiap orang, tidak terbatas usia. Membaca bukan suatu trend yang hanya booming pada suatu waktu tertentu, namun merupakan hal yang terus-menerus menjadi bagian dari masyarakat, sehingga kemudian banyak muncul berbagai toko buku di sekitar masyarakat yang mencoba memenuhi kebutuhan pasar terhadap buku atau bahan pustaka.
Ada banyak toko buku tersebar di seluruh Indonesia, dari mulai yang berskala nasional hingga lokal. Beberapa toko buku ternama di Indonesia antara lain adalah Gramedia Bookstore, Karisma Bookstore, Tisera, Gunung Agung, dan Times Bookstore. Di kota Malang sendiri terdapat beberapa toko buku seperti Gramedia Bookstore, Karisma, Tisera, Siswa, Toga Mas, dan Dian Ilmu. Namun sebelum munculnya beberapa toko buku lokal di kota Malang, beberapa waktu yang lalu penjualan buku dikuasai oleh tiga toko buku besar, yaitu Gramedia Bookstore, Gunung Agung, dan Siswa, jika melihat keadaan saat ini keberadaan toko buku Gunung Agung dan Siswa telah tergeser dengan hadirnya toko buku lokal. Gunung Agung yang dahulu terletak di Sarinah Dept. Store bahkan sekarang sudah tidak beroperasi lagi di kota Malang, sedangkan Siswa meskipun masih beroperasi namun telah tertinggal jauh dengan toko buku lainnya yang sekarang ada.
Toko buku yang masih bertahan dan dapat dikatakan semakin menguasai pasar saat ini adalah Gramedia Bookstore, bahkan hingga bulan Januari 2011 Gramedia Bookstore telah memiliki 98 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, tidak hanya di kota-kota besar melainkan juga di beberapa kota kecil seperti Madiun, Kediri, dan Magelang. Setiap cabang toko buku memiliki 30.000 – 50.000 judul buku (Laoli, 2011). Gramedia Bookstore telah menjadi market leader dalam hal toko buku retail, hal ini terbukti dengan diraihnya penghargaan Marketing Award 2009 dalam kategori The Best Experiential Marketing. Experiential Marketing yang dimiliki oleh Gramedia Bookstore adalah bagaimana menciptakan kenyamanan konsumen selama berada dalam toko tersebut, kenyamanan tersebut diciptakan dari pelayanan toko yang baik dan desain serta interior yang menarik (Nisa, 2009).
Tidak hanya meraih penghargaan Marketing Award, Gramedia Bookstore juga berhasil mempertahankan gelar Top Brand Award 2010. Gramedia Bookstore dinobatkan sebagai toko buku paling dikenal oleh public dengan Top Brand Index sebesar 78,1% dan meninggalkan pesaingnya Gunung Agung hanya dengan indeks sebesar 12,4%. Sedangkan toko buku lainnya seperti Toga Mas, Karisma, dan Wali Songo hanya mendapat indeks di bawah 3%. Merek Gramedia begitu lekat di hati masyarakat sehingga 78,1% dari 2.400 responden di enam kota besar di Indonesia memilih Gramedia sebagai merek paling top (Damanik, 2010).
PT Gramedia Asri Media (GAM) sebagai pemilik jaringan Gramedia Bookstore tentunya memiliki kiat-kiat tertentu dalam menjalankan usahanya sehingga mampu meraih kesuksesan yang luar biasa hingga sekarang. Tidak hanya memperhatikan kebutuhan pasar, tentu GAM juga memperhatikan bauran pemasaran yang terdiri dari 4P (Product, Price, Place, Promotion) serta analisis SWOT. Hal tersebut lah yang kemudian mendorong peneliti untuk melakukan observasi pada Gramedia Bookstore yang ada di kota Malang, tepatnya yang terletak di Jalan Basuki Rachmad dan Jalan Veteran MATOS.

1.2  Rumusan Masalah
Mengacu dari latar belakang penulisan makalah di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana gambaran umum mengenai Gramedia Bookstore?
2.      Bagaimana bauran pemasaran yang diterapkan oleh Gramedia Bookstore?
3.      Bagaimana analisis SWOT mengenai Gramedia Bookstore?

1.3  Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui gambaran umum mengenai Gramedia Bookstore.
2.      Untuk mengetahui bauran pemasaran yang diterapkan oleh Gramedia Booksotre.
3.      Untuk mengetahui analisis SWOT mengenai Gramedia Bookstore.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum Gramedia Bookstore
Gramedia didirikan oleh P.K Ojong (alm) dan Jakob Oetama dengan sebuah visi yang jelas, yaitu mereka ingin berpartisipasi dalam pengembangan intelektual agar masyarakat Indonesia dapat meningkatkan kesejahteraan dan masa depannya. Seperti yang dilansir di situs resmi Gramedia (2005), mereka bertekad untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia, sebab mereka percaya bahwa kehidupan dapat diubah dengan ilmu pengetahuan yang kuat. P.K Ojong dan Jakob Oetama memulai karier mereka sebagai seorang jurnalis yang kemudian keduanya berhasil menerbitkan majalah pertama mereka bernama Intisari di tahun 1963. Penerbitan majalah pertama tersebut terbukti sukses, bahkan majalah Intisari masih diterbitkan hingga saat ini.
Dua tahun kemudian, pada tanggal 28 Juni 1965 P.K Ojong dan Jakob Oetama mulai menerbitkan sebuah surat kabar harian yang disebut Kompas. Hingga kini, Kompas telah menjadi surat kabar yang paling banyak dibaca di Indonesia dengan sirkulasi yang terluas. Keberhasilan yang mereka raih tersebut, membawa keduanya berkembang ke dalam usaha penerbitan, percetakan, dan retail buku serta majalah. Hingga pada tahun 1970 untuk pertama kalinya toko buku Gramedia didirikan di jalan Gajah Mada Jakarta, dan sampai dengan Januari 2011 telah memiliki 98 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dengan slogan bahwa “Membaca adalah kunci yang akan memperkuat masyarakat Indonesia untuk menciptakan masa depan mereka sendiri”, Gramedia Bookstore memiliki visi dan misi sebagai berikut,
Visi:
Turut berpartisipasi dalam pengembangan intelektual bangsa dengan menyebarkan ilmu pengetahuan dan informasi melalui model retail yang berbeda dan pendistribusian buku, ATK, dan produk multimedia, ditandai dengan pelayanan yang terbaik, manajemen yang proaktif, dan perilaku bisnis yang tepat.
Misi:
·         Untuk menjadi agent of change di dalam masyarakat yang pluralistic
·         Untuk menjadi pemimpin di dalam retail dan distribusi ilmu pengetahuan, informasi dan infotainment berbasis media.
·         Untuk menyediakan produk-produk yang canggih, inovatif, dan berorientasi pasar
Sejak pertama kali dibuka tahun 1970, Gramedia Bookstore telah menjadi pemimpin dalam penjualan buku dan penerbitan, berada jauh di atas dari pesaing-pesaing terdekatnya. Gramedia Bookstore telah mengembangkan citra merek dan reputasi yang sangat bagus selama bertahun-tahun. Masyarakat Indonesia telah tumbuh bersama Gramedia dan belajar untuk mempercayai Gramedia dalam menyediakan berbagai buku berkualitas dengan harga yang dapat dijangkau bagi mereka. Gramedia Bookstore telah menyediakan bahan bacaan berkualitas selama lebih dari 40 tahun dan telah menjadi sebuah merek yang teruji dan terpercaya di dalam retail buku dan penerbitan.
Penerbit dari Gramedia sendiri terdiri dari enam perusahaan yang memasok sekitar 40% dari total buku yang diterbitkan, buku-buku tersebut terdiri dari buku asli berbahasa Indonesia dan buku terjemahan. Gramedia menjalin hubungan yang baik dengan para pemasok dan mitra kerjanya, Gramedia dikenal atas keadilan dan integritas dalam segala urusan bisnis. Pemasok selalu dibayar tepat waktu dan pihak Mal atau Dept. Store yang bekerja sama dengan Gramedia mengerti bahwa Gramedia Bookstore selalu menjadi pembangun lalu lintas yang baik bagi Mal maupun Dept. Store mereka.
Gramedia Bookstore dimiliki dan dikelola oleh PT Gramedia Asri Media (GAM), sebuah anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Kompas Gramedia Group (KGG). GAM adalah saluran distribusi retail untuk KGG yang juga menangani penerbit dan mitra asing. Kemudian pada tahun 1972 KGG mendirikan sebuah pabrik percetakan di Jakarta dalam rangka memenuhi kebutuhan terhadap koran dan majalah yang semakin meningkat, hingga kemudian pada tahun 1973 dibentuk PT Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan mulai menerbitkan judul pertamanya. Perusahaan tersebut telah meraih sukses yang luar biasa, hingga kini mampu menerbitkan lebih dari 600 judul per tahun, kisaran judul buku terdiri dari buku anak-anak dan remaja, buku bahasa dan sastra, kamus dan referensi, buku teks universitas, buku mengenai life style dan masih banyak lagi. GPU memiliki 60% judul buku asing yang diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, secara kolektif GPU menangani sekitar 4000 judul aktif yang didistribusikan oleh Gramedia Bookstore.
Melonjaknya kebutuhan terhadap pendidikan teknologi membuat KGG mendirikan PT Elex Media Komputindo (EMK) pada tahun 1985. EMK menerbitkan buku-buku tentang komputer, elektronik, teknologi, komik, dan perangkat lunak komputer. Setiap tahun EMK menerbitkan 1500 judul baru dan lebih dari 50% judul merupakan terjemahan dari bahasa asing. Kemudian pada tahun 1990 KGG mendirikan PT Gramedia Widiasarana Indonesia atau yang dikenal dengan Grasindo. Grasindo berkonsentrasi pada buku pelajaran sekolah dan bahan pendidikan lainnya untuk TK hingga SMA, sampai dengan sekarang Grasindo mampu menerbitkan 300 judul baru setiap tahun. Tidak hanya di bidang penerbitan buku, KGG juga telah memiliki Gramedia Majalah yang menangani sekitar 43 judul tabloid dan majalah, yang terdiri dari 30 judul asli dan 13 berlisensi, seperti National Geographic, TopGear, Disney Junior dan masih banyak lagi.
Indonesia telah melihat suatu transformasi selama 40 tahun terakhir, sebuah negara yang memiliki keragaman luar biasa dan geografis yang sangat luas, kaya akan seni dan tradisi budaya membuat Indonesia harus menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan. Pada tahun 1970-an, ketika Gramedia baru saja berdiri, lebih dari 31% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun mengalami buta huruf. Namun pada tahun 2003, angka buta huruf  turun menjadi 9,07% untuk kelompok yang sama. Wajib belajar 9 tahun bagi setiap penduduk Indonesia yang dilaksanakan bersamaan dengan berkembangnya kelas menengah dengan pesat menciptakan kondisi yang haus akan ilmu pengetahuan dan buku bacaan setiap harinya yang belum pernah  terjadi sebelumnya. Dalam hal tersebut tentu saja Gramedia telah berperan penting untuk ikut serta mencerdaskan bangsa.

2.2 Bauran Pemasaran Gramedia Bookstore
Menurut Kotler & Armstrong (2008:62), bauran pemasaran (marketing mix) adalah kumpulan alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkannya di pasar sasaran. Bauran pemasaran terdiri dari semua hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan produknya. Berbagai kemungkinan ini dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok variabel yang disebut “4P” (Product, Price, Place, Promotion).
2.2.1 Produk
Produk berarti kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pasar sasaran (Kotler & Armstrong, 2008:62). Dalam rangka mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan konsumen yang berkembang pesat, Gramedia Bookstore telah menjadi one-stop shop untuk setiap anggota keluarga. Ragam produk yang disediakan oleh Gramedia Bookstore meliputi buku lokal dan impor, alat tulis, multimedia, peralatan olahraga serta alat-alat musik.
Buku-buku di Gramedia Bookstore 80% adalah karya lokal yang diproduksi di Indonesia atau bahan asing yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan 20% sisanya merupakan buku impor.  Ini termasuk buku-buku tentang berbagai subyek dan tema, bahan studi, kamus, direktori jalan, majalah dan komik. Alat tulis yang disediakan di Gramedia Bookstore meliputi pena, pensil, perlengkapan menggambar, map, buku tulis, dan masih banyak lagi. Untuk peralatan multimedia meliputi digital camera dan aksesorisnya, laptop dan aksesorisnya, printer, fax, scanner, handphone, dll. Adapun peralatan olahraga yang disediakan meliputi alat-alat fitness, berbagai macam bola, raket, scooter, sepatu roda, perlengkapan renang, dll. Sedangkan alat-alat musik yang tersedia yaitu keyboard, gitar, drum, seruling, pianika, dll.
Produk-produk yang disediakan oleh Gramedia Bookstore sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Gramedia tidak hanya mengutamakan kuantitas produk yang disediakan, namun juga memperhatikan kualitas yang baik. Buku-buku yang tersedia dijamin keasliannya, sebab Gramedia menjalin kerjasama dengan sejumlah penerbit, sehingga setiap buku yang dijual merupakan produk orisinil. Kualitas yang baik tidak hanya terletak pada buku, berbagai produk berupa alat tulis yang tersedia di Gramedia Bookstore juga merupakan produk yang berkualitas. Sama halnya dengan produk multimedia dan berbagai peralatan musik serta olahraga, pemasok produk-produk tersebut berasal dari perusahaan ternama yang telah dipercaya oleh konsumen. Sehingga dari segi kualitas, Gramedia Bookstore tidak hanya menjadi one-stop shop yang menyediakan beragam produk, namun juga mampu memuaskan pelanggan dengan produknya yang berkualitas.
Gramedia Bookstore menyediakan buku-buku dengan berbagai subjek dan tema, hal tersebut merupakan hasil dari kerjasama pihak Gramedia dengan sejumlah penerbit antara lain Penerbit Erlangga, Salemba Empat, Arruzz Media, Trans Media, Penerbit Diva, Prestasi Pustaka, Gema Insani, dll. Selain buku-buku dari penerbit tersebut, Gramedia juga mendapat pasokan buku dari penerbit yang dimiliki oleh perusahaan induk Kompas Gramedia Group (KGG), antara lain Gramedia Pustaka Utama, Elexmedia Komputindo, Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), Kepustakaan Populer Gramedia, Penerbit Buku Kompas, Bhuana Ilmu Populer, dan Gramedia Majalah. Macam-macam alat tulis yang tersedia di Gramedia Bookstore merupakan produk-produk dari Steadler, Fiber Castel, Pentel, Stabilo, Joyko, Snowman, Paperline, dll. Untuk perlengkapan sekolah seperti tas, Gramedia menyediakan beberapa produk dari Eiger, Export, Realpolo, serta Planet Ocean. Beberapa perlengkapan olahraga yang tersedia mulai dari merek Yonex, Spalding, Mikasa, hingga merek Wish. Namun untuk alat-alat musik didominasi oleh produk dari Yamaha, sedangkan produk multimedia terdiri dari berbagai macam merek, antara lain Panasonic, Sony, Canon, Samsung, HP, Alfalink, beberapa produk dari Nokia, Sony Ericsson, dan Blackberry juga tersedia.
2.2.2 Harga
Harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan pelanggan untuk memperoleh produk (Kotler & Armstrong, 2008:63). Berbagai produk yang disediakan oleh Gramedia Bookstore memiliki harga yang umumnya dapat dijangkau oleh konsumen kelas menengah. Bahkan Gramedia Bookstore pun terus berupaya agar produknya juga mampu dijangkau oleh konsumen kelas menengah ke bawah.
Untuk produk buku, harga yang ditawarkan oleh Gramedia Bookstore bermacam-macam, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah. Jumlah harga masing-masing buku tersebut ditentukan berdasarkan jenis buku itu sendiri. Antara buku pelajaran sekolah, buku teks universitas, novel, komik, dan jenis-jenis buku yang lain tentunya memiliki harga berbeda-beda. Sedangkan untuk produk lainnya, seperti alat tulis, perlengkapan musik dan olahraga, serta produk multimedia, harga yang ditawarkan sesuai dengan harga eceran yang disarankan oleh masing-masing pemasok produk.
Salah satu cara Gramedia Bookstore untuk memuaskan pelanggan adalah dengan memberikan diskon atau potongan harga. Gramedia Bookstore yang terletak di Jalan Basuki Rachmad Malang selalu menggelar program diskon buku setiap periode-periode tertentu dengan durasi selama 1bulan. Program tersebut digelar di halaman depan Gramedia Bookstore dengan tujuan untuk menarik perhatian masyarakat. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp. 5.000,- Rp. 7.000,- Rp. 10.000,- hingga Rp. 15.000,- umumnya harga tersebut telah didiskon 50% dari harga semula atau harga asli buku. Buku-buku yang didiskon terdiri dari berbagai macam jenis dan subjek yang berasal dari beberapa penerbit seperti Arruzz Media, Trans Media, Mizan, Prestasi Pustaka, Gema Insani, Diva, dll.
Tidak hanya memberikan diskon pada periode tertentu, Gramedia Bookstore yang terletak di Jalan Basuki Rachmad Malang juga menyediakan buku-buku khusus mahasiswa yang didiskon 25% sampai dengan 40% setiap harinya. Terdapat pula beberapa buku teks universitas yang dibandrol dengan harga Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- dan Rp. 15.000,-. Selain memberikan diskon untuk produk yang berupa buku, Gramedia Bookstore juga memberikan diskon untuk produk lainnya, seperti salah satu contohnya yaitu VCD/DVD Film. Harga yang ditawarkan untuk 2buah VCD/DVD Film yaitu mulai dari Rp. 10.000,- Rp. 20.000,- Rp. 30.000,- hingga Rp.40.000,- .
Gramedia Bookstore juga memberikan potongan harga khusus untuk pembelian buku terbitan Kompas Gramedia (Penerbit Buku Kompas) bagi pelanggan yang memiliki Kompas Gramedia Value Card-Flazz. Potongan harga yang diberikan yaitu, regular discount 10% untuk semua buku terbitan Kompas Gramedia dan seasonal discount 20% pada setiap acara Book Lovers Time Kompas Gramedia. Terdapat pula keuntungan lain yang diberikan Gramedia Bookstore bagi pelanggan yang memiliki kartu tersebut, seperti salah satunya yaitu kesempatan untuk indent buku dengan harga khusus.
2.2.3 Tempat
Menurut Kotler & Armstrong (2008:63), tempat meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran. Sejak pertama kali dibuka pada tahun 1970 hingga Januari 2011, Gramedia Bookstore telah memiliki 98 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan menurut Laoli (2011) Gramedia Bookstore akan segera membuka 10 cabang baru lagi untuk beberapa daerah di Jakarta, Bandung, dan Gorontalo. Sehingga kemungkinan sampai dengan waktu sekarang ini, diperkirakan Gramedia Bookstore telah memiliki lebih dari 100 cabang.
Setiap outlet Gramedia Bookstore menikmati lokasi yang strategis dalam setiap kota-kota besar di Indonesia dan beberapa kota kecil seperti Madiun, Kediri, dan Magelang. Setiap outlet telah direncanakan dan diposisikan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan Gramedia Bookstore di setiap daerah tertentu. Di Kota Malang sendiri terdapat dua outlet Gramedia Bookstore, yaitu di Jalan Basuki Rachmad dan Jalan Veteran, Matos.
Kedua lokasi Gramedia Bookstore di Kota Malang merupakan tempat yang strategis. Jalan Basuki Rachmad merupakan daerah yang terletak di pusat kota, letak Gramedia Bookstore berdekatan dengan alun-alun kota, Sarinah dan Ramayana Dept. Store, beberapa tempat ibadah seperti masjid dan gereja, kantor pemerintahan, serta berbagai macam pertokoan. Alat transportasi umum yang lewat di sekitar Gramedia Bookstore juga beragam, mulai dari jurusan GA, AG, LG, GL, MM, dan LDG, hal tersebut memudahkan masyarakat Malang dari berbagai daerah untuk datang ke Gramedia Bookstore.
Letak Gramedia Bookstore yang berada di Matos Jalan Veteran juga termasuk lokasi yang strategis, karena berdekatan dengan beberapa sekolah dan perguruan tinggi, seperti SMAN 8 Malang, SMKN 2 Malang, SMPN 4 Malang, MAN 3 Malang, MTSN 1 Malang, MIN 1 Malang, TK B.A Restu Malang, dan Universitas Negeri Malang serta Universitas Brawijaya. Selain itu, Matos sendiri juga merupakan salah satu Mal yang memiliki banyak pengunjung sehingga memberikan pengaruh positif bagi Gramedia Bookstore. Beberapa alat transportasi umum yang lewat di sekitar Matos antara lain AL, GL, LDG, dan ASD.
Selain tempat atau lokasi yang strategis, Gramedia Bookstore juga berusaha untuk menciptakan outlet yang nyaman bagi setiap pelanggan yang datang. Kenyamanan tersebut selain dari pelayanan prima juga diciptakan melalui segi design dan interior yang baik. Pada umumnya design dan interior antara kedua outlet Gramedia Bookstore yang ada di Kota Malang hampir sama, perbedaannya hanya terletak pada jumlah lantai, outlet di Jalan Basuki Rachmad memiliki 3 lantai, sedangkan di Matos Jalan Veteran hanya memiliki 2 lantai. Lantai 1 menyediakan berbagai alat tulis, perlengkapan musik dan olahraga, serta produk multimedia. Sedangkan lantai 2 khusus menyediakan berbagai macam buku.
Penataan buku-buku di Gramedia Bookstore dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan pada pelanggan yang datang. Buku-buku yang merupakan kebutuhan bagi kategori pelajar, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dengan subjek seperti buku pendidikan, kamus, buku referensi, buku anak dan remaja (komik dan novel) dan buku sekolah diletakkan di sisi yang berbeda dengan subjek buku yang merupakan kebutuhan bagi kategori mahasiswa hingga umum, yang meliputi agama dan filsafah, sosial dan politik, majalah, teknik, TI, hukum, ekonomi, bisnis manajemen, pariwisata, dan pertanian. Untuk buku-buku impor, dan buku-buku mengenai gaya hidup, kesehatan, bahasa dan sastra diletakkan di bagian tengah, sedangkan di bagian terdepan merupakan display untuk kategori buku pilihan, buku baru, dan best seller.
Lantai 3 yang terletak di outlet Jalan Basuki Rachmad merupakan area khusus buku mahasiswa special promo. Sehingga semua buku yang terdapat di lantai 3 tersebut khusus memenuhi kebutuhan para mahasiswa. Terdapat berbagai macam tema, seperti SPSS, Science, Metodologi Penelitian, Akuntansi, Manajemen, Kedokteran, Ekonomi, Psikologi, Sosiologi, Teknik, dan Statistik. Gramedia Bookstore tidak hanya melayani konsumen secara langsung namun juga secara tidak langsung. Hal tersebut dilakukan melalui situs online Gramedia yang dapat diakses di www.gramediaonline.com, di situs tersebut konsumen dapat melakukan pemesanan ataupun pembelian berbagai produk secara online yang tidak terbatas pada buku.
2.2.4 Promosi      
Kotler & Armstrong (2008:63) mengatakan bahwa promosi berarti aktivitas yang menyampaikan manfaat produk dan membujuk pelanggan untuk membelinya. Gramedia Bookstore melakukan promosi melalui pemasangan iklan di beberapa media cetak, dengan memanfaatkan sejumlah surat kabar harian dan majalah yang ditebitkan oleh anak perusahaan dari Kompas Gramedia Group (KGG) seperti penerbit Gramedia Majalah. Beberapa contoh surat kabar harian yang menjadi media promosi Gramedia Bookstore adalah Kompas, Jakarta Post, Warta Kota, Tribun Jabar, Surya, dll. Sedangkan beberapa majalah dan tabloid yang menjadi media promosi adalah Bobo, Hai, Kawanku, Idea, Motor Plus, Nova, Starnova, dll.
Tidak terbatas pada pemasangan iklan saja, Gramedia Bookstore juga melakukan promosi dengan menjadi sponsor dalam event tertentu seperti seminar atau acara perlombaan. Beberapa seminar mengenai bedah buku tertentu yang diterbitkan oleh Gramedia, akan menjadi kesempatan bagi Gramedia Bookstore untuk promosi kepada masyarakat. Tidak jarang pula Gramedia Bookstore menjadi sponsor untuk acara perlombaan yang bertema pendidikan, seperti yang diselenggarakan di berbagai sekolah dan universitas.
Gramedia Bookstore baru-baru ini menawarkan promosi khusus berupa promosi penjualan melalui Kompas Gramedia Value Card-Flazz (KGVC) yang baru saja launching pada tanggal 16 Juli 2011. Seperti yang dilansir di situs resmi Kompas Gramedia (2011), KGVC adalah bentuk penghargaan Kompas Gramedia Group kepada para pelanggan setia di seluruh Business Unit Kompas Gramedia. Melalui kerjasama dengan Flazz BCA, membership card tersebut memberikan berbagai manfaat bagi para pelanggan Gramedia Bookstore, antara lain pemberian regular discount 10% dan seasonal discount 20% untuk pembelian produk Kompas Gramedia, diskon khusus untuk harga tiket event seperti seminar dan acara perlombaan, kesempatan indent buku dengan harga khusus, dan mendapatkan katalog produk secara berkala.
Cara untuk mendapatkan KGVC tersebut juga tergolong mudah, yaitu dengan hanya membayar sebesar Rp. 50.000,- atau bisa didapatkan secara gratis jika berbelanja akumulasi Rp. 500.000,- untuk semua produk dalam waktu 1 minggu di semua Gramedia Bookstore dan berlaku kelipatan. Dengan berbagai manfaat dan syarat yang ditentukan untuk kepemilikan KGVC tersebut, maka dapat dikatakan bahwa terciptanya KGVC juga merupakan salah satu cara Gramedia Bookstore untuk melakukan promosi dengan membujuk pelanggan untuk membeli produk. Manfaat yang didapatkan dari KGVC akan membuat pelanggan semakin loyal kepada Gramedia Bookstore dan lebih memilih untuk membeli kebutuhannya di Gramedia daripada di toko buku lainnya.
2.3 Analisis SWOT Gramedia Bookstore
Menurut Kotler & Armstrong (2008:64), analisis SWOT adalah penilaian menyeluruh terhadap kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) suatu perusahaan. Perusahaan harus menganalisis pasarnya dan lingkungan pemasarannya agar menemukan peluang yang menarik dan mengidentifikasi ancaman dari lingkungannya. Perusahaan harus menganalisis kekuatan dan kelemahan perusahaan serta tindakan pemasaran saat ini dan yang mungkin dilakukan untuk menentukan peluang mana yang paling baik untuk dikejar. Tujuannya adalah untuk mencocokkan kekuatan perusahaan dengan peluang menarik yang ada pada lingkungan, sekaligus menghilangkan atau mengatasi kelemahan dan meminimalisasi ancaman.
2.3.1 Kekuatan
Kekuatan meliputi kemampuan internal, sumber daya, dan faktor situasional positif yang dapat membantu perusahaan melayani pelanggannya dan mencapai tujuannya (Kotler & Armstrong, 2008:64). Kekuatan Gramedia Bookstore yang pertama terletak pada kelengkapan produk yang tersedia, dengan menyediakan produk yang beragam dan berkualitas maka Gramedia Bookstore dapat memenuhi kebutuhan para konsumen. Sehingga diharapkan kebutuhan konsumen yang beragam dapat terpenuhi ketika mereka berbelanja di Gramedia Bookstore.
Selain itu Gramedia Bookstore juga berusaha menawarkan harga yang bersaing demi kepuasan para konsumen, frekuensi pemberian diskon juga menjadi salah satu kekuatan Gramedia Bookstore, sebab tidak dapat dipungkiri bahwa diskon menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi sekarang dengan hadirnya Kompas Gramedia Value Card-Flazz (KGVC), akan semakin membentuk potensi yang kuat bagi Gramedia Bookstore untuk menarik konsumen yang loyal. KGVC memberikan berbagai manfaat bagi pemiliknya, hal tersebut dianggap Gramedia sebagai bentuk penghargaan untuk konsumen yang setia pada Gramedia Bookstore.
 Lokasi outlet Gramedia Bookstore yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia juga merupakan kekuatan yang membuat Gramedia Bookstore dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia. Hingga Januari 2011, jumlah outlet yang tersebar yaitu 98 outlet, yang antara lain berada di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, Cirebon, Bandung, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Magelang, Surabaya, Jember, Malang, Madiun, Kediri, Pangkal Pinang, Manado, Bali, Kupang, Bandar Lampung, Palembang, Padang, Medan, Pekanbaru, Batam, Balikpapan, Banjarmasin, Samarinda, Pontianak, Makasar, Kendari, dan Jayapura. Dengan banyaknya jumlah outlet yang tersebar, maka diharapkan Gramedia Bookstore mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia dan tidak terbatas oleh wilayah, hal tersebut terbukti dari lokasi sejumlah outlet yang tersebar mulai dari Medan hingga Jayapura.
Kekuatan Gramedia Bookstore yang lainnya adalah strategi pemasaran yang baik. Hal ini terbukti dengan diraihnya penghargaan Marketing Award 2009 dalam kategori The Best Experiential Marketing, yang diselenggarakan oleh Majalah Marketing bekerja sama dengan dosen-dosen senior dari universitas magister manajemen terkemuka di Jakarta. Nisa (2009) mengatakan bahwa experiential marketing yang dimiliki Gramedia adalah bagaimana menciptakan kenyamanan bagi konsumen selama berada di dalam toko buku, sehingga ketika konsumen datang toko tidak hanya membeli barang, tapi juga mendapat experience tersendiri di dalam toko tersebut, itulah yang diciptakan oleh Gramedia Bookstore. Experience yang diperoleh para konsumen antara lain karena kenyamanan toko, pelayanan yang baik, juga dari segi desain, dan interior toko buku yang menarik.
Selanjutnya yang menjadi kekuatan utama bagi Gramedia Bookstore adalah citra merek dan reputasi yang sangat baik, menurut Damanik (2010) hal ini dibuktikan dengan gelar Top Brand Award 2010 yang berhasil dipertahankan oleh Gramedia Bookstore. Acara yang diselenggarakan oleh Majalah Marketing dan Frontier Consulting Group tersebut menobatkan Gramedia Bookstore sebagai  toko buku paling dikenal oleh publik, dengan Top Brand Index (TBI) sebesar 78,1%. Gramedia Bookstore meninggalkan jauh pesaingnya TB Gunung Agung dengan indeks 12,4%, sementara toko buku lainnya seperti Toga Mas, Karisma, dan Wali Songo harus puas dengan indeks di bawah 3%. Berdasarkan index tersebut, merek Gramedia memang begitu lekat di hati masyarakat sehingga sekitar 78,1% dari 2.400 responden di enam kota besar di Indonesia memilih Gramedia sebagai merek paling top. Merek Gramedia menempati top of mind di masyarakat, memiliki market share yang tinggi, dan memiliki pelanggan dengan tingkat loyalitas yang tinggi.
2.3.2 Kelemahan
Kotler & Armstrong (2008:64) mengatakan bahwa kelemahan meliputi keterbatasan internal dan faktor situasional negatif yang dapat menghalangi performa perusahaan. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, salah satu kelemahan Gramedia Bookstore adalah harga buku impor yang masih bergantung pada nilai kurs. Ketika nilai kurs Rupiah terhadap mata uang asing lemah, maka hal tersebut akan berdampak pada harga buku impor yang ditawarkan. Semakin lemah nilai kurs Rupiah, maka semakin mahal harga buku impor tersebut. Alangkah baiknya jika Gramedia Bookstore memiliki kendali terhadap harga buku impor yang dijual, sehingga harga yang dibandrol dapat disesuaikan dengan daya beli konsumen.
Meskipun pada umumnya harga produk yang tersedia di Gramedia Bookstore dapat dijangkau oleh konsumen kelas menengah, namun terdapat beberapa produk yang harganya relatif lebih mahal, seperti alat tulis dan produk multimedia. Ketika peneliti membandingkan harga alat tulis yang tersedia di Gramedia Bookstore dengan toko lain seperti Royal ATK di Jalan Ciliwung Malang, terdapat beberapa alat tulis yang harganya terbukti lebih mahal. Sedangkan untuk produk multimedia seperti laptop dan handphone, Gramedia Bookstore menawarkan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga yang ditawarkan oleh toko-toko elektronik lainnya. Kelemahan tersebut dikarenakan oleh kekurangmampuan Gramedia Bookstore dalam menyetarakan harga dengan toko-toko yang khusus menjual alat tulis dan barang elektronik, sebab Gramedia Bookstore sendiri merupakan toko buku yang lebih berkonsentrasi pada penjualan buku.
Hal lain yang menjadi kelemahan Gramedia Bookstore adalah pelayanan operasional online Gramedia yang hanya terbatas pada hari Senin – Jumat, pukul 08.00 – 17.00 WIB saja. Sehingga pada malam hari dan weekend, situs online Gramedia tersebut tidak beroperasi. Kondisi tersebut akan menyulitkan konsumen yang ingin melakukan transaksi pada malam hari atau pada hari Sabtu atau Minggu, misalnya seperti orang-orang yang sibuk dan tidak memiliki cukup waktu untuk bertransaksi pada jam kerja.
2.3.3 Peluang
Menurut Kotler & Armstrong (2008:64), peluang adalah faktor atau tren yang menguntungkan pada lingkungan eksternal yang dapat digunakan perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Buku merupakan kebutuhan bagi semua orang, tidak terbatas usia. Baik anak-anak maupun dewasa pada umumnya membutuhkan buku sebagai media untuk mendapatkan wawasan atau ilmu pengetahuan, terutama bagi para pelajar. Setiap tahun ajaran baru, para pelajar membutuhkan buku untuk menunjang kebutuhannya dalam bersekolah, sehingga dapat dikatakan permintaan terhadap buku tidak pernah menurun bahkan cenderung bertambah. Hal tersebut dapat menjadi peluang bagi Gramedia Bookstore untuk terus memperluas dan memperkaya usahanya.
Dalam era globalisasi sekarang ini, internet telah menjadi bagian dari setiap kehidupan masyarakat, penggunaan internet secara positif mampu memberikan banyak manfaat kepada penggunanya. Banyak informasi yang didapat dari internet, bahkan internet juga telah dijadikan media bisnis seperti penjualan barang secara online, dan juga media pembelajaran. Hal tersebut yang kemudian menciptakan suatu produk yang disebut e-book atau electronic book, yaitu buku yang berupa soft copy dan umumnya berupa file PDF. E-book juga disebut paperless book, karena penggunaannya harus melalui media ekektronik seperti computer, laptop, atau notepad. Bisa dikatakan bahwa saat ini sudah banyak masyarakat yang menggunakan e-book sebagai bahan bacaan mereka. Gramedia Bookstore dalam situasi ini berpeluang untuk turut menyediakan e-book bagi konsumennya, hal tersebut akan menjadi hal baru bagi Gramedia Bookstore, sehingga tidak hanya menyediakan buku dalam bentuk hard copy, namun juga menyediakan e-book.
2.3.4 Ancaman
Ancaman adalah factor pada lingkungan eksternal yang tidak menguntungkan dan menghadirkan tantangan bagi performa perusahaan (Kotler & Armstrong, 2008:64). Ancaman bagi Gramedia Bookstore yaitu toko buku lainnya yang juga hadir di sekitar masyarakat, seperti misalnya TB Gunung Agung, Toga Mas, Tisera, Karisma, dll. Selain toko buku yang disebutkan di atas, keberadaan pasar buku juga menjadi ancaman bagi Gramedia Bookstore, apalagi pasar buku umumnya menjual buku bekas atau buku baru yang kualitasnya bajakan atau palsu dengan harga yang jauh lebih murah. Seperti yang ada di kota Malang yaitu Pasar Buku Wilis yang menyediakan berbagai jenis buku bekas atau baru dengan harga murah.
Penjualan buku melalui media internet kini juga telah marak di masyarakat. Meskipun Gramedia Bookstore juga memiliki situs online, namun keberadaan situs penjualan buku online lainnya juga dapat menjadi ancaman bagi Gramedia Bookstore, seperti contohnya Amazon, Ebay, Kaskus, dll. Dalam hal ini Gramedia Bookstore harus memiliki cara tertentu agar konsumen lebih memilih untuk berbelanja di situs online Gramedia daripada situs lainnya, misalnya seperti prosedur pembelian dan pembayaran yang mudah.
Situs penjualan buku online yang telah disebutkan di atas tidak hanya menjual buku namun e-book, sedangkan untuk saat ini Gramedia Bookstore belum menyediakan produk berupa e-book. Tentu saja kondisi tersebut menjadi ancaman bagi Gramedia Bookstore. Pihak manajemen perlu menerapkan strategi yang baik dalam menyiasati setiap ancaman yang ada agar tidak timbul kerugian.





BAB III
KESIMPULAN

Gramedia Bookstre didirikan pada tahun 1970 oleh P.K Ojong (alm) dan Jakob Oetama di Jalan Gajah Mada Jakarta. Sejak pertama kali dibuka, Gramedia Bookstore yang dimiliki dan dikelola oleh PT Gramedia Asri Media yang merupakan anak perusahaan Kompas Gramedia Group, telah menjadi pemimpin dalam penjualan buku dan penerbitan. Selama lebih dari 40 tahun Gramedia telah menjadi sebuah merek yang teruji dan terpercaya di dalam retail buku dan penerbitan.
Adapun bauran pemasaran Gramedia Bookstore adalah sebagai berikut:
1.      Produk
Gramedia Bookstore telah menjadi one-stop shop untuk setiap anggota keluarga. Ragam produk yang disediakan oleh Gramedia Bookstore meliputi buku lokal dan impor, alat tulis, multimedia, peralatan olahraga serta alat-alat musik.
2.      Harga
Berbagai produk yang disediakan oleh Gramedia Bookstore memiliki harga yang umumnya dapat dijangkau oleh konsumen kelas menengah. Gramedia Bookstore juga gemar memberikan diskon atau potongan harga, pada periode tertentu Gramedia Bookstore memberikan diskon 50%, terdapat pula diskon buku mahasiswa sebesar 25% - 40% setiap harinya. Belum lagi diskon yang diberikan untuk pemilik Kompas Gramedia Value Card-Flazz (KGVC).
3.      Tempat
Gramedia Bookstore telah memiliki 98 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, setiap outlet Gramedia Bookstore menikmati lokasi yang strategis dalam setiap kota-kota besar di Indonesia dan beberapa kota kecil. Selain tempat atau lokasi yang strategis, Gramedia Bookstore juga berusaha untuk menciptakan outlet yang nyaman bagi setiap pelanggan yang datang.
4.      Promosi
Gramedia Bookstore melakukan promosi melalui pemasangan iklan di beberapa media cetak dan menjadi sponsor dalam event tertentu seperti seminar atau acara perlombaan. Gramedia Bookstore juga menawarkan promosi penjualan melalui membership card KGVC.
Berikut adalah analisis SWOT mengenai Gramedia Bookstore,
1.      Kekuatan, yang meliputi:
·         Produk yang tersedia lengkap.
·         Harga buku terjangkau, termasuk seringnya pemberian diskon.
·         Lokasi yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia.
·         Strategi pemasaran yang baik.
·         Citra merek dan reputasi yang baik.
2.      Kelemahan, yang meliputi:
·         Harga buku impor bergantung pada nilai kurs Rupiah.
·         Beberapa produk (alat tulis dan multimedia) harganya relative lebih mahal.
·         Terbatasnya jam operasional pada pelayanan situs online Gramedia.
3.      Peluang, yang meliputi:
·         Perluasan dan pengayaan usaha.
·         Penyediaan e-book.
4.      Ancaman, yang meliputi:
·         Keberadaan toko buku saingan.
·         Keberadaan pasar buku, termasuk adanya buku bekas dan buku bajakan yang harganya jauh lebih murah.
·         Banyaknya situs penjualan buku online.
·         Semakin populernya e-book.










DAFTAR RUJUKAN

Damanik, C. 2010. Toko Buku Gramedia Pertahankan Top Brand. (Online), (http://www.kompas.com), diakses 5 Oktober 2011.
Gramedia Bookstores. 2005. Gramedia 1970 to 2005. (Online), (http://gramediabooks.com), diakses 2 Oktober 2011.
Gramedia Online. 2011. Cara Belanja. (Online), (http://www.gramediaonline.com), diakses 14 Oktober 2011.
Kompas Gramedia. 2011. Kompas Gramedia Value Card. (Online), (http://www.kgvaluecard.com), diakses 2 Oktober 2011.
Kotler, P & Armstrong, G. 2008. Prinsip-prinsip Pemasaran. Jilid 1. Edisi Keduabelas. Terjemahan ___. Jakarta: Erlangga.
Laoli, N. 2011. Gramedia dan Times Buka 10 Cabang Baru. (Online), (http://www.kompas.com), diakses 5 Oktober 2011.
Nisa. 2009. Toko Buku Gramedia Raih Marketing Award 2009. (Online), (http://www.kompas.com), diakses 5 Oktober 2011.

Selasa, 17 April 2012

Income dan Laporanya

By Tamuramaro Arishima | At 09.12 | Label : | 0 Comments
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Income
Yang dimaksud pertama kali konsep laba sebenarnya adalah para ekonomi, kemudian para profesi akuntan mengikutinya. Adam Smith menjelaskan bahwa laba sebagai jumlah yang dapat dikomsumsi tanpa menggerogoti modal atau kenaikan dalam kekayaan. Ekonomi Inggris yang juga pemenang nobel Sir John Hicks memperluas hal ini dengan mengatakan bahwa laba adalah jumlah yang dapat dikonsumsi seseorang selama periode waktu tertentu dan sama sejahteranya pada akhir periode.
Dengan perkataan lain, laba menurut Smith dan Hicks adalah surplus sesudah pemeliharaan kesejahteraan, tetapi sebelum dikonsumsi. Laba dalam teori akuntansi biasanya lebih menunjuk pada konsep yang oleh FASB disebut laba komperhensif. Laba komperhensif dimaknai sebagai kenaikan asset bersih selain yang berasal dari transaksi dengan pemilik.
B.     Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang dihasilkan oleh pihak manajemen suatu perusahaan merupakan hasil akhir dari proses atau kegiatan-kegiatan akuntansi yang dilakukan perusahaan. Laporan keuangan dibuat untuk mempertanggungjawabkan kegiatan peusahaan terhadap pemilik dan memberi informasi mengenai posisi keuangan yang telah dicapai perusahaan. Laporan keuangan adalah suatu laporan tertulis yang merupakan bentuk pandangan secara wajar mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertangggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka (IAI,2002).

Melalui laporan keuangan itu, secara periodik dilaporkan informasi penting mengenai suatu perusahaan yang berupa :
a.       Informasi mengenai sumber-sumber ekonomi, kewajiban dan modal perusahaan.
b.      Informasi mengenai perubahan-perubahan dalam sumber-sumber ekonomi netto atau kekayaan bersih (modal = Aktiva dikurangi kewajiban), yang timbul dari aktivitas usaha perusahaan dalam rangka memperoleh laba.
c.       Informasi mengenai hasil usaha perusahaan yang dapat dipakai sebagai dasar untuk menilai dan membuat estimasi tentang kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
d.      Informasi mengenai perubahan dalam sumber-sumber ekonomi dan kewajiban, yang disebabkan oleh aktivitas pembelanjaan dan investasi.
e.       Informasi penting lainnya yang berhubungan dengan laporan keuangan, seperti kebijaksanaan akutansi yang dianut oleh perusahaan.
Tujuan dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi (IAI, 2002). mengklasifikasikan tujuan laporan keuangan sebagai berikut (Riahi dan Belkaoui, 2000 :126) :
a.       Tujuan umum, yaitu menyajikan laporan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima umum.
b.      Tujuan khusus, yaitu memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban serta informasi lainnya yang relevan.
c.       Tujuan kualitatif, sebagai berikut :
1.      Relevance : Memilih informasi yang benar-benar dapat membantu pemakai laporan dalam pengambilan keputusan.
2.      Understanability : Informasi yang disajikan bukan saja inormasi yang penting tetapi mudah untuk dimengerti oleh pemakainya.
3.      Variability : Hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain.
4.      Timeliness : Laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila diserahkan pada saat yang tepat.
5.      Comparability : Informasi akuntansi harus dapat dibandingkan, artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama untuk semua perusahaan.
6.      Completeness : Informasi yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan layak bagi pemakai
Pemakai Laporan Keuangan
Pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang, investor potensial, karayawan, pemberi pinjaman (kreditor), pemasok (supplier), pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya dan masyarakat. Mereka menggunakan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda. Menurut (Harahap : 2002 :166) dalam Sandy Teguh Ariansyah (2006 : 12) pemakai laporan keuangan terdiri dari :
a.       Pemakai langsung :
1)      Pemilik Perusahaan
2)      Kreditur
3)      Pemasok
4)      Manajemen
5)      Fiskus (pajak)
6)      Pegawai
7)      Karyawan
8)      Perusahaan
9)      Langganan
b.      Pemakai tak langsung :
1)      Konsultan
2)      Para Pesaing
3)      Masyarakat Umum


C.    Konsep-Konsep Income
C.1 Konsep Laba dalam Semantik
Konsep laba dalam semantic berkaitan dengan masalah makna apa yang harus dilekatkan oleh perekayasa pelaporan pada symbol atau elemen laba sehingga laba bermanfaat (usefull) dan bermakna (meaningfull) sebagai informasi. Makna semantic laba yang dikembangkan diatas akhirnya harus dapat dijabarkan dalam tataran sintaktik. Ini berarti konsep laba jarus dioperasionalkan dalam bentuk standar dan prosedur akuntansi yang mantap dan objektif sehingga anggka laba dapat diukur dan disajikan dalam statement keungan. Salah satu bentuk penjabaran makna laba secara sintaktik adalah mendefinisi laba sebagai selisih pengukuran dan penandingan antara pendapatan dan biaya. Tentang pendapatan, masalah teoritis pendapatan dan biaya adalah definisi dan pengukuran dalam arti luas. Definisi meupakan masalah pada tataran semantik. Pengukuran dalam arti luas yang meliputi pengakuan, saat pengakuan dan prosedur pengakuan ditambah cara mengungkapkan (disclosure) merupkan masalah pada tataran sintaktik. Bila laba didefinisi sebagai pendapatan dikurangi biaya, masalahnya adalah kapajn laba timbul sehingga harus diukur dan diakui. Parallel dengan masalah pengukuran pendapatan, terdapat dua criteria atau pendekatan dalam pengukuran laba yaitu pendekatan transaksi (transaction approach) dan pendekatan kegiatan (activities approach).
Pada tahapan ini, teori ini berusaha menjawab pertanyaan apakah yang harus dipresentasi oleh laba. Seperti teori tentang asset, realitas atau kegiatan entitas yang harus dipresentasi oleh angka laba. Makna yang terkandung dalam laba akhirnya harus diinterprestssi oleh pemakai. Pemaknaan laba secara semantic akhirnya akan menentukan laba secara sintatik yaiitu pengukuran dan penyajiannya. Untuk memberikan makna interpretative kepada accounting income, para kuntan sering meminjam 2 konsep ekonomi sebagai titik tolak yaitu konsep “better-offness” dan “maximation of profit” (dalam keadaan tertentu seperti struktur pasar,demand terhadap barang yang bersangkutan dan input cost). “Better-offness” merupakan bentuk lain daripada konsep profit maximation atau pengukuran efisiensi. Akan tetapi , dengan konsep laba ini sebagai sasaran, bagaimana pengukuran laba masa lalu dapat memberikan dasar untik menentukan efisiensi sebuah perusahaan. Efisiensi adalah suatu istilah yang relative dan hanya mempunyai arti bila dibandingkan dengan yang ideal atau beberapa dasar yang lain.
C.2 Konsep Laba Dalam Sintaksis
Meskipun akuntasi mendefinisikan pada interprestasi dunia nyata atas laba akuntasi atau dampak perilakunya (baik kemampuan prediktifnya ataupun relevansinya secara umum dalam proses pembuatan keputusan ), mereka umumnya mendasarkan prinsip dan ukuran pada premis yang mungkin tidak berkaitan dengan fenomena dunia nyata atau pengaruh perilaku. Sebagai contoh, sekelompok Studi tentang Tujuan Laporan Keuangan mengatakan bahwa “ penghasilan didasarkan pada ketentuan dan aturan yang harus logis dan secara internal konsisten, sekalipun itu tidak serasi dengan pandangan para ekonom atas laba “. Ketentuan dan aturan itu dibuat logis dan konsisten yang mendasarkan pada premis dan konsep yang telah dikembangkan dari praktik yang ada. Akan tetapi konsep-konsep tersebut seperti realisasi, pandangan, dasar akrual, dan alokasi biaya dapat didefinisikan hanya dalam pengertian aturan yang tepat, karena hal itu tidak sepadan dalam dunia nyata.
Akuntan telah menggunakan istilah ini, sehingga mereka cenderung menerima hal itu sebagai mempunyai interprestasi dalam dunia nyata. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa hal itu tidak mempunyai signifikansi diluar peranan terbatsnya dalam logika struktur akuntasi. Tidak adanya signifikansi merupakan satu alasan mengapa banyak mahasiswa mengalami kesulitan. Operating income (Laba Operasi) menunjukan jumlah yang tersisa dari seles setelah dikurangi dari cost of goods sold (Harga Pokok Penjualan), Depreciation (Penyusutan), biaya penjualan dari tahun ke tahun.
C.3 Konsep Laba Dalam Pragmatis
Tataran pragmatis dalam teori komunikasi berkepentingan untuk menentukan apakah pesan sampai kepada penerima dan mempengaruhi perilaku sebagaimana diarah. Teori akuntasi pragmatis memusatkan perhatiannya pada pengaruh informasi terhadap perubahan perilaku pemakai informasi akuntasi. Informasi diharapkan mempunyai pengaruh kalu informasi tersebut benar-benar digunakan oleh para pemakai kerena menurut persepsi pemakai informasi tersebut mempunyai manfaat, kualitas atau nilai informasi.
Bila dikaitkan dengan laba, tataran ini membahas apakan informasi laba bermanfaat atau apakah informsi laba nyatanya digunakan. Kalau memang digunakan, unuk kepentingan apa inormasi laba digunakan sehingga angka laba benar-benar harus disediakan. Menanyakan langsung kepada pemakai apakah mereka menggunakan angka laba akuntasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui kebermanfaatan laba. Cara lain adalah dengan mengenali bagaimana informasi laba nyatanya digunakan dan dengan mengukur reaksi pasar modal terhadap pengumuman laba akuntasi.
D.    Forecasting Income
Forecasting adalah meramal atau memperkirakan apa yang akan terjadi dimasa datang berdasar variabel atau kemungkinan yang ada. Potensi dan kelemahan perusahaan diperhatikan dengan seksama. Forecasting dilakukan sebelum perencanaan dibuat. Hasil dari forecasting ini menjadi dasar dalam pembuatan rencana dan diproyeksikan untuk menjadi bahan penjabaran rencana.
Menurut Study Group on the Objective Financial Statement menyatakan bahwa:“ suatu tujuan dari ikhtisar keuangan adalah memberikan informasi yang factual dan dapat di interprestasikan mengenai transaksi dan kejaidian lainnya yang penting untuk prediksi, pembandingan dan penilaian mengenai kemauan perusahaan untuk menghasilkan laba”.
Pernyataan ini juga menekankan pentingnya pengukuran laba berkala untuk membantu pembuat keputusan dalam meramalkan keberhasilan dimasa yang akan datang. Dasar untuk pembuatan pernyataan ini adalah adanya hubungan yang tertulis antara income yang dilaporkan dengan arus kas (termasuk deviden ) bagi pemilik.
E.     Konsep Pertambahan Nilai Income (Value Added)
Dalam pengertian ekonomi, nilai tambah adalah hasil pasar dari keluaran suatu perusahaan dikurangi harga barang dan jasa yang diperoleh melalui transfer dari perusahaan lain. Jadi semua karyawan, pemilik, kreditor dan pemerintah (melalui pajak) adalah penerima dari laba perusahaan.
Konsep nilai tambah menjadi berarti apabila diterapkan pada perusahaan yang sangant besar yang mempengaruhi hidup ribuan orang dan mempunyai kepentingan sosial dab ekonomi du luar kepentingan sempit dari pemilik dan pemegang saham. Laba nilai tambah mencakup upah, sewa, bunga, pajak, deviden yang dibayarkan kepada pemegang saham dan penghasilan yang tidak dibagikan dalam konsep ini. Itu tidak harus terhutang kepada pemilik saja, tetapi juga kepada semua penerima atau pengklaim lain dari nilai tambah perusahaan. Hanya dalam kasus liquiditas pemegang saham biasa mempunyai klaim tersisa. Dalam jangka panjang, penahan penghasilan memberikan pertumbuhanpada modal perusahaan yang melalui produktivitas yang meningkat dapat memberikan arus kenaikan laba pada semua penerima. Jika perusahaan itu diasumsikan mempunyai umur yang berkesinambungan atau tak terbatas, pemegang saham mungkin tak pernah menerima manfaat langsung dan satu-satunya dari penahan penghasilan dalam perusahaan.
F.     Konsep-Konsep Net Income
F.1 Konsep net income pada investor
Sesuai dengan entity konsep dengan pemegang saham maupun pemberi utang jangka panjang merupakan investor dari permanen capita. Dengan adanya perusahaan antara pemilikan dan pengendalian dalam perusahaan-perusahaan besar, perbedaan antara pemegang saham dan pemegang obligasi tidaklah sepenting pada masa lalu. Perbedaan utamanya sebetulnya hanya terletak pada hak didahulukan dalam pembagian income dan terhadap asset pada waktu liquiditas. Apabila kita meneliti hak didahulukan dalam pembagian income, sering dapat kekaburan antara pemegang obligasi dan pemegang preferred stock. Pemegang income bonds misalnya mempunyai jaminan lebih sedikit mengenai hak didahulukan dalam pembagian income dibandingkan dengan pemegang cumulative preffered stock. Juga pemegang convertible bonds bisa mempunyai hak atas laba yang ditahan melalui konfersi utang menjadi common stock.

Dalam entity concept, income bagi para investor meliputi bunga utang, deviden bagi pemegang preferred dan common stock, maupun laba yang ditahan. Konsep income ini mempunyai beberapa keuntungan :
1)       Keputusan-keputusan mengenai sumber-sumber long-term-capital bersifat pembelanjaan dan bukan operasional.
2)       Karena adanya perbedaan-perbedaan dalam struktur permodalan perusahaan, maka perbandingan antara perusahaan dapat dilakukan secara langsung dengan konsep income ini.
3)       Rate of return dari total investmen dari konsep ini menggambarkan efisiensi relatif dari pada invested capital secara lebih baik dari pada rate of return to stockholders.
Dalam perhitungan net income pada investor ini, pajak penghasilan diperlakukan sebagai expense. Inilah perlakuan yang dianjurkan oleh APB dan kemudian dianut oleh FASB. Ini merupakan posisi yang realities karena pemerintah bukanlah merupakan beneficiary dari perusahaan dalam pengertian seperti para investor. Perusahaan memang menerima manfaat dari pemerintah, namun manfaat ini tidaklah proporsional dengan pajak yang dibayarkan. Bahkan menurut penelitian di Amerika Serikat, pajak penghasilan dapat dibebankan (“passes on”) seperti halnya biaya. Juga para investor maupun manajer kelihatannya mendasarkan kebanyakan keputusan mereka kepada income after tax.
F.2 Konsep net income pada stockholder
Pandangan yang paling tradisional dan yang paling diterima mengenai net income adalah bahwa net income merupakan return kepada pemilik perusahaan. Meskiun konsep ini berakar kuat pada proprietary approach, banyak pengarang menerapkanya kepada entity approach dan menganggap accounting profit bagi entity sebagai kewajiban terhadap pemilik-pemiliknya. Konsep net income yang diperuntukan bagi semua pemegang saham juga tersirat dalam APB Opinion No 9 dan APB Statement No 4. Study group on the objektiv of financial statements menekankan sifat prediktifnya accounting income, tetapi selanjutnya menyatakan bahwa kemampuan menghasilkan terwujud dari kemampuan perusahaan mencapai tujuan akhir yang beruypa pemberian maximum cash kepada para pemilik-pemiliknya.
Konsep net income pada stockholders juga mempunyai pendukung ilmu ekonomi. Meskipun definisi laba ekonomi berbeda daripda accounting profit sebagai total return kepada entrepreneurs dalam peranan mereka sebagai manajer, investor, pengambil resiko dan penyewa. Meskipun cara pandangan ini mungkin tidak menguntukan, tetapi sudah merupakan kenyataan bahwa pemakaian laporan akuntasi biasanay mengartikan net income sebagai return to shareholders.
F.3 Konsep net income pada pemegang saham
Dalam ikhtisar-ikhtisar keuangan yang disajikan khusus bagi pemegang saham dan investor lainnya, net income yang tersedia untuk dibagikan kepada pemegang common stock biasanya dianggap sebagai angka yang terpenting dalam ikhtisar tersebut. Net income per share dan deviden per share untuk common stock dikutip secara luar dalam berita-berita keuangan, disamping haraga-haraga saham. Oleh karena itu ada dukungan yang kuat dari pertimbangan pragmatis ini terhadap konsep income ini.
G.    Konsep Perilaku Manajer Terhadap Income
Perilaku manajer dikendalikan melalui laba dengan cara mengaitkan kompensasi dengan laba sebagai pengukur kinerja. Pengendalian akan efektif apabila menejer mempunyai persepsi bahwa laba sebagai pengukur kinerja benar-benarlaba yang diakibatkan oleh tindakan atau upaya (action and efforts). Oleh karena itu dalam pengendalian menajemen terhadap berbagai tingkat laba dengan berbagai sebutan sebagai pengukur kinerja manajer.
Pengendalian manajemen menuntut adanya kontrak-kontrak internal yang memerlukan berbagai tingkat laba akuntaswi sebagai unsure kesepakatan. Jadi secara pragmatic laba akuntansi memang digunakan oleh manajemen. Hal ini member indikasi bahwa laba akuntasi bermanfaat untuk kepentingan atau kontrak internal.

H.    Tujuan Pelaporan Net Income
Tujuan utama pelaporan net income adalah untuk memberikan informasi kepada mereka yang menaruh minat pada laporan keuangan. Tetapi kita harus memperinci tujuan-tujuan tertentu sebelum kita memperoleh pengertian tentang pelaporan income. Salah satu dari tujuan dasar mengasumsikan bahwa yang paling penting bagi semua pemakai laporan adalah keutuhan untuk membedakan invested capital dan income-perbedaan antara stock dan flows-sebagai bagian dari proses deskriptifnya akuntansi.
Tujuan yang lebih khusus meliputi pemakaian income sebagai pengukuran efisiensi manajemen, pemakaian angka-angka historical income untuk membantu meramalkan masa depan perusahaan atau deviden diwaktu yang akan dating, dan pemakaian income sebagai keberhasilan dan pedoman mengenai keputusan-keputusan manajerial dimasa yang akan dating. Yang tidak akan dibahas adalah income sebagai dasar pengukuran pajak, penggunaan income sebagai cara untuk mengatur perusahaan dimana kepentingan umum terlibat, dan pemakaian angka-angka income oleh para ahli ekonomi untuk mengevaluasi allocation of resources.









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dengan perkataan lain, laba menurut Smith dan Hicks adalah surplus sesudah pemeliharaan kesejahteraan, tetapi sebelum dikonsumsi. Laba dalam teori akuntansi biasanya lebih menunjuk pada konsep yang oleh FASB disebut laba komperhensif. Laba komperhensif dimaknai sebagai kenaikan asset bersih selain yang berasal dari transaksi dengan pemilik.
Laporan keuangan adalah suatu laporan tertulis yang merupakan bentuk pandangan secara wajar mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertangggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka (IAI,2002).
Pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang, investor potensial, karayawan, pemberi pinjaman (kreditor), pemasok (supplier), pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya dan masyarakat.
B.     Kritik dan Saran
Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, saya sebagai mahluk ciptaan-Nya hanya bias berusaha sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik. Oleh karena itu jika ada kesalahan dalam penulisan saya mohon di kritik dan di beri saran. Semoga untuk kedepanya apa yang saya sajikan menjadi lebih baik dari pada sekarang. Amin.



Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Surga Dunia Maya - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz